u3-f99db90d-77b8-4c41-abf8-24679c436252
Hantu Penunggu Kebun Salak

Karya : Sudarmin Harun, S.Pd

Di desa Kerta Jaya, di pinggir hutan lebat, terletaklah kebun salak milik Pak Sadi. Kebun itu sangat luas dan subur. Salak yang dihasilkan manis dan renyah. Namun, tak ada satu pun warga desa yang berani memasukinya setelah senja tiba. Konon, kebun itu dijaga oleh sesosok hantu wanita berambut panjang yang sering disebut Hantu Penunggu Kebun Salak.

Kisah ini berawal dari seorang pemuda bernama Roni. Roni terkenal sebagai pemuda yang pemberani dan tidak percaya takhayul. Ia sering mengejek cerita-cerita hantu yang beredar di desa. Suatu sore, Pak Sadi mengeluh karena banyak buah salaknya yang hilang dicuri. Dengan sombong, Roni menawarkan diri untuk menjaga kebun itu semalaman. Pak Sadi sudah memperingatkan Roni tentang bahaya yang mengintai, tetapi Roni hanya tertawa.

Malam itu, dengan bekal senter dan sebilah parang, Roni memasuki kebun salak. Angin malam berembus dingin, menggoyangkan daun-daun salak yang berduri. Pohon-pohon salak seolah-olah berbisik, menciptakan melodi yang menakutkan. Roni mencoba mengabaikan rasa takutnya. Ia terus berjalan mengelilingi kebun, memastikan tidak ada pencuri yang masuk.

Saat jam menunjukkan pukul dua belas malam, Roni mulai merasa aneh. Ia mendengar suara tangisan yang samar-samar dari tengah kebun. Suara itu terdengar sangat sedih dan pilu. Roni mengira itu hanya suara hewan malam. Namun, tangisan itu semakin jelas dan dekat. Ia menyalakan senternya dan mengarahkannya ke sumber suara.

Di kejauhan, di bawah sebuah pohon salak yang rindang, terlihatlah sosok wanita berambut panjang. Wanita itu mengenakan gaun putih yang sudah lusuh. Rambutnya menutupi wajahnya yang pucat. Roni merasa merinding. Ia teringat cerita Pak Sadi dan warga desa. Jantungnya berdebar kencang. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya halusinasi.

Roni mencoba untuk lari, tetapi kakinya terasa kaku. Tiba-tiba, suara tangisan itu berhenti dan digantikan dengan bisikan yang terdengar seperti gumaman. “Jangan ambil salakku… jangan ambil salakku…” bisik suara itu. Sosok wanita itu perlahan mengangkat kepalanya. Matanya terlihat kosong, hitam pekat, dan tanpa pupil.

Roni menjatuhkan senternya, dan kegelapan langsung menyelimutinya. Ia berlari sekuat tenaga tanpa melihat ke belakang. Duri-duri salak menggores tubuhnya, tetapi ia tidak peduli. Yang ada di pikirannya hanyalah satu hal: lari.

Keesokan harinya, warga desa menemukan Roni pingsan di pinggir kebun. Wajahnya pucat pasi, dan tubuhnya penuh luka goresan. Roni tidak pernah lagi mengejek cerita hantu. Ia selalu berkata kepada siapa pun yang ingin mendengar ceritanya, “Kebun salak itu ada penunggunya. Jangan pernah berani mengganggunya.”

Sejak saat itu, tidak ada lagi pencuri yang berani mendekati kebun salak Pak Sadi. Masyarakat desa Kerta Jaya semakin yakin, bahwa Hantu Penunggu Kebun Salak itu nyata, dan ia akan selalu menjaga kebunnya dari siapa pun yang mencoba mengganggunya.

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait